Bukti Tuhan Ada

Rabu, 27 Mei 2009 komentar

Kemarin seorang teman meminta bantuanku untuk menjawab pertanyaan temannya (seorang dari agama lain; seorang Germann), “Apa buktinya kalau Tuhan itu ada?”. Aku bingung dan tidak tahu bagaimana menjawabnya, ahirnya kukatakan pada temanku itu kira-kira seperti ini, “Aku tak dapat membuktikan keberadaan Tuhan, tapi jika engkau tidak percaya adanya Tuhan, dapatkah engkau membuktikannya?”

Kukatakan juga pada temanku sebagai jawabanku, “karena ada atau tidaknya aku tidak bisa membuktikan, maka aku memilih percaya bahwa Tuhan itu ada. Paling tidak aku bisa mempercayai bahwa selama ribuan tahun orang-orang bijaksana telah mempercayainya dan aku lebih percaya pada keyakinan mereka”.

Mungkin jawabanku tidak memuaskannya, dan sangat mungkin salah. Tapi hanya itu yang bisa kukatakan sebagai jawabanku.

Aku jadi terpikir sesuatu, dalam sejarah peradaban umat manusia adakah peradaban yang tidak meyakini adanya Tuhan ataupun Dewa?


::.gambar dari sini

Jejak Kaki Diriku dan Tuhanku

Rabu, 08 April 2009 komentar

Oleh:Dimas
saya copy untuk teman-teman pengunjung blogku

Suatu malam seorang pemuda bermimpi. Dia bermimpi berjalan bersama Tuhan di sepanjang pantai. Ketika memandang ke langit, pemuda tersebut melihat tampilan perjalanan hidupnya. Setiap tampilan ia melihat ada dua pasang jejak kaki di pasir: satu adalah jejaknya, dan jejak lainnya adalah jejak Tuhan.

Ketika saat-saat terakhir kehidupannya tampil di hadapannya, dia melihat kembali jejak kaki yang ada di pasir. Dia menyadari bahwa beberapa bagiaan waktu dalam hidupnya hanya terdapat satu pasang jejak kaki. Dia juga menyadari bahwa hal itu terjadi ketika saat-saat paling buruk dan bermasalah dalam hidupnya.

Hal ini menggangu pikirannya dan ia bertanya kepada Tuhan tentang hal tersebut:

“Tuhan, Engkau mengatakan bahwa ketika aku memutuskan untuk mengikutimu, Kau selalu berjalan bersamaku sepanjang waktu. Tetapi aku menyadari bahwa selama masa dimana hidupku penuh dengan masalah dan penderitaan, di sana hanya terdapat satu jejak kaki. Aku tidak mengerti kenapa ketika saat-saat dimana aku membutuhkan Mu Engkau malah meninggalkanku.”

Tuhan menjawab: “Anakku yang aku sayangi, Aku mencintaimu dan Aku tidak pernah meninggalkanmu. Selama masa ujian dan penderitaan, ketika kau hanya melihat sepasang jejak kaki, saat itu Aku memikulmu.”

Gambar dari sini

Nabi dan Pengemis Buta

komentar: 1

Catatan: Tulisan ini saya copy dari blog mas Dimas

Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah terdapat seorang pengemis Yahudi buta, yang tiap hari apabila ada orang yang mendekatinya , ia selalu berkata “Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya”. Tetapi setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu, walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW melakukannya hingga Beliau wafat. Setelah kewafatan Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, “anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan”, Aisyah r.ha menjawab, “Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnahpun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja”. “Apakah itu?”, tanya Abubakar r.a. Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana”, kata Aisyah r.ha.

Keesokan harinya Abubakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, “siapakah kamu ?”Abubakar r.a menjawab, “aku orang yang biasa”. “Bukan! Engkau bukan orang yang biasa menyuapiku!”, jawab si pengemis buta itu. “Apabila orang yang sering menyuapiku datang kepadaku, tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu ia menghaluskan makanannya sehingga aku tidak susah mengunyahnya”, kata pengemis buta itu.

Abubakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, “Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.”

Setelah pengemis itu mendengar cerita Abubakar r.a., ia begitu terharu hingga meneteskan air mata, kemudian berkata, “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghina dan memfitnahnya, namun ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, sungguh ia begitu mulia.” Pengemis Yahudi buta itu pun akhirnya bersyahadat dihadapan Abubakar r.a.

***

Ya Nabi, sungguh Engkaulah teladan yang sempurna.

Yaa Nabi sallam alaika
Yaa Rasul sallam alaika
Yaa Habib salam alaika
Sholawatullah alaika

*********

Kisah di atas diambil dari almihrab.com
Gambar dari sini

Mengenal Diri, Mengenal Tuhan

Rabu, 01 April 2009 komentar
Catatan: tulisan ini saya ambil secara tidak beradab dari blognya mas Watung



Barangsiapa mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya. Konon itu kata-kata Baginda Rasulullah SAW. Tapi seberapa susahnya sebenarnya mengenal diri itu? Sebegitu pentingnya kah hal itu sehingga bisa mengantarkan seseorang pada suatu pengenalan yang sungguh agung, sesuatu yang dicita-citakan oleh siapa saja yang percaya, pengenalan akan Tuhan? Bukankah yang disebut “saya” ini ya saya, ya yang ini? Tidakkah kita semua tahu dan kenal diri kita sendiri?

Not so fast, fella. Mari kita resapi kisah berikut ini.

* * *

Dalam keadaan sakratul maut, seseorang tiba-tiba merasa berada di depan sebuah gerbang. “Tok, tok, tok,” pintu diketuk. “Siapa di situ?” ada suara dari dalam. Lalu kuseru saja, “Saya, Tuan.”

“Siapa kamu?”
Watung, Tuan.

“Apakah itu namamu?”
Benar, Tuan.

“Aku tidak bertanya namamu. Aku bertanya siapa kamu.”
Ehm, saya anak lurah, Tuan (dengan wajah yang mulai plonga-plongo)

“Aku tidak bertanya kamu anak siapa. Aku bertanya siapa kamu.”
Saya seorang engineer, Tuan.

“Aku tidak menanyakan pekerjaanmu. Aku bertanya: siapa kamu?”

Sambil masih plonga-plongo karena nggak tahu mau menjawab apa, akhirnya ditemukanlah jawaban yang rada agamis sedikit:

Saya seorang Muslim, pengikut Rasulullah SAW.

“Aku tidak menanyakan agamamu. Aku bertanya siapa kamu.”
Saya ini manusia, Tuan. Saya setiap Jumat pergi jumatan ke masjid dan saya pernah kasih sedekah. Setiap lebaran, saya juga puasa dan bayar zakat.

“Aku tidak menanyakan jenismu, atau perbuatanmu. Aku bertanya siapa kamu.”

Akhirnya orang ini pergi melengos keluar, dengan wajah yang masih plonga-plongo. Dia gagal di pintu pertama, terjegal justru oleh sebuah pertanyaan yang sungguh sederhana: siapa dirinya yang sebenarnya.
* * *

Nggak mudah, tho? Coba pikir, kita nggak paham siapa kita, maka kita punya tradisi besar mengasosiasikan sesuatu terhadap diri kita: nama, profesi, titel, jenis kelamin, warna kulit dan rambut, foto wajah (seperti yang di KTP, our identification!). Kita melabeli diri kita dengan sesuatu itu, kita pun nyaman dengan label itu, lalu merasa bahwa label itulah diri kita. Think again: apakah aku = tubuhku?

Ah, Watung, itu cuma permainan kata!

Mungkin saja. Tapi perhatikanlah kalimat orang-orang agung itu: “barangsiapa mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya.”

Knowing others is wisdom
Knowing the self is enlightenment.
Mastering others requires force
Mastering the self requires strength.- Tao Te Ching

Does it make you wonder, my dear?

P.S.: Kisah di atas saya adaptasi secara tidak beradab serta sangat kurang ajar dari sebuah buku, Doa Sang Katak, karya Anthony De Mello.


gambar dari sini