Cogito Ergo Sum

Rabu, 01 April 2009 komentar

Katanya, segala hal yang kita anggap nyata, (artinya terraba oleh indera kita) adalah hanya sebuah gelombang energi dengan frekuensi berbeda-beda yang tertangkap oleh indera kita. Sebuah tongkat lurus nampak oleh mata kita, karena ia memantulkan gelombang energi dengan frekuensi tertentu yang ditangkap oleh mata kita kemudian dipersepsikan oleh otak sebagai sesuatu benda kecil lurus dan panjang. Sesuatu itu adalah benda, lalu kita sebut; nyata.

Lalu aku teringat pelajaran biologi di MTs (setingkat SMP), bahwa mata seekor belalang memiliki kapasitas penglihatan yang lebih rendah dari mata manusia. Ia (maksudnya si belalang) melihat sebuah tongkat sebagai jajaran segi enam, melihat manusia sebagai jajaran segienam yang lebih banyak dan lebih luas. Jadi mungkin jika belalang bisa berpikir dan bicara, maka kita akan berdebat dan berbantah dengan mereka mengenai tongkat itu :D.

Kemudian yang kupikirkan adalah, kita menganggap hasil penglihatan belalang itu adalah sebuah kekeliruan. Lalu kita berkata, “Kamu telah tertipu oleh pandangan matamu, dunia ini sesungguhnya jauh lebih detail dan lebih indah dari yang kau tahu”. Apakah si belalang akan percaya? Pasti (mungkin) tidak, karena seumur hidupnya bahkan belalang-belalang lainnya di seluruh dunia melihat dunia memang demikian adanya; segi enam yang berbaris. Belalang berkata, “Secara rasional hal itu tidaklah mungkin kawan”. Begitulah, belalang akan ngotot pada pengetahuannya.

Kita pun tersenyum melihat keteguhan belalang pada pengetahuannya yang keliru itu :). Nah, bagaimana jika ternyata belalang itu adalah kita, lalu datang sebuah pengetahuan yang tidak pernah kita ketahui sebelumnya, bahkan secara rasional kita anggap tidak mungkin. APAKAH KITA JUGA AKAN BERSIKAP SEPERTI BELALANG ITU?


Hanya Tuhan Yang Maha Tahu.

::.foto oleh Hantulaut

komentar

Poskan Komentar